Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

Sedikit Pandangan tentang Agama

Aku dan teman-temanku suka nongkrong di kafe. Kami mengobrolkan apa pun, baik itu gosip teman sendiri, kemahasiswaan, isu hangat, hingga filsafat dan agama. Gaya pergulan kami terasa akrab namun kasar. Satu informasi hangat bisa menyebar dengan cepat seangkatan. Tanpa perlu media massa, kami secara sukarela menyebarnya. Kasarnya adalah saling ejek, namun tanpa dimasukkan ke hati. Kami bahkan terkadang memanggil teman kami dengan SARA, tapi kami biasa saja. Malam kemarin aku berniat mengerjakan skripsi di suatu kafe milik kakak tingkat. Sampai suatu titik aku bosan dan mengobrol dengan teman-temanku. Aku yang tertarik dengan bahasa dan agama, akhirnya belajar iqro’ dengan mereka. Sudah lama aku ingin bisa membaca tulisan Arab. Aku ingin bisa membaca Alquran. Aku ingin mempelajari agama-agama lain dan melihat sudut pandangnya terhadap dunia. Teman-temanku lalu membahas doa-doa tertentu, seperti doa makan, doa sebelum tidur, doa bangun pagi, dan lain-lain. Tapi muncul banyak pertany...

Pandangan tentang Mitologi Yunani

  Aku belajar banyak tentang mitologi. Tak hanya mitologi Yunani, tapi juga mitologi lain dari seluruh dunia. Namun mitologi Yunani adalah salah satu yang paling menarik. Mitologi ini memiliki monster-monster fantastis. Cerita-ceritanya sering menunjukkan kekuasaan para dewa dan ketidakberdayaan manusia. Para dewa hidup abadi, berwujud rupawan, berkekuatan supranatural, dan bisa bertindak semau mereka, terkadang melebihi batas moral. Para dewa bisa memberi hadiah atau mengutuk siapa pun yang mereka inginkan. Beberapa dari mereka menikahi saudaranya, tapi berselingkuh dengan banyak makhluk lain. Para dewa di sini adalah wujud hasrat tanpa batas yang ingin dimiliki manusia. Berbeda dengan dewa Nordik yang takut akan kehancuran mereka saat perang akhir zaman Ragnarok, dewa Yunani selalu berkuasa. Bahkan dikatakan di akhir zaman, Zeus dan para dewa meninggalkan manusia yang tindakannya semakin buruk. Setelah itu Zeus pun menghancurkan manusia. Manusia di mitologi Yunani digambarkan t...

Makna Kata "Dalem" di Bahasa Jawa

  Salah satu ilmu yang paling kusenangi adalah bahasa. Bukan hanya bahasa sebagai cara komunikasi, tapi juga sebagai pembentuk pola pikir. Contoh yang paling terkenal mungkin bahasa Newspeak di novel 1984 karya George Orwell. Di situ bahasa Inggris dimodifikasi agar menjadi sederhana dan teratur, serta menghilangkan konsep-konsep seperti kebebasan atau demokrasi. Bahasa Newspeak dibuat untuk membatasi pola pikir masyarakat agar sejalan dengan kepentingan negara. Tak usah jauh-jauh, bahasa-bahasa di Indonesia pun dapat mencerminkan pola pikir masyarakatnya. Misalnya dalam bahasa Inggris, kita selalu gunakan kata “I”, “you”, dan “he/she”. Tapi dalam bahasa Indonesia, kita tak bisa sembarangan menggunakan kata “aku”, “kamu”, dan “dia”. Untuk orang yang dihormati, kita gunakan kata “saya”, “Anda”, dan “beliau”. Cara berbahasa ini membuat kita berpikir tentang kedudukan lawan bicara, apakah dihormati atau tidak. Dengan begitu kita dibentuk menjadi mawas diri pada kedudukan diri sendir...

Mitologi Cinta

Di zaman purba, manusia kurasa belum mencintai. Mereka hidup dengan hukum rimba dan bercinta dengan siapa mereka mau. Bisa jadi mereka bercinta dengan saudaranya, atau paman-bibinya, atau orang dari suku lain yang datang berperang. Hingga suatu hari manusia menciptakan lambang kesuburan dan menyembahnya. Wanita yang ideal digambarkan memiliki payudara dan pinggul yang besar. Lelaki menganggap wanita itu dapat melahirkan anak dengan sehat dan merawatnya dengan baik. Lelaki ideal digambarkan dengan dada yang bidang, tinggi-besar, cerdas, dan kaya. Wanita menganggap lelaki itu dapat melindunginya dan menjamin keselamatan keluarganya. Selebihnya, keindahan berarti simetri. Tiap bagian tubuh memiliki ukuran dan bentuk yang proporsional. Sejak itu manusia mulai menilai pasangannya, membandingkannya dengan yang ideal. Manusia membuat parameter-parameter dalam berpasangan. Saat sebagian atau seluruh parameter terpenuhi, manusia jatuh cinta! Saat itulah hukum rimba mulai patah. Dewa tua Ura...

Cara Terbaik Menjadi Produktif

Pada kehidupan modern saat ini, efisiensi adalah mata uang yang utama. Teknologi berlomba-lomba untuk jadi makin efisien. Misalnya akses internet yang jadi makin cepat, alat elektronik yang makin kecil dengan kapasitas makin besar, dan berbagai jasa yang makin mudah didapat hanya dengan ketukan jari di atas gawai. Dunia makin lama bergerak makin cepat dan kita tertuntut untuk jadi lebih produktif. Namun di masa pandemi, yang terjadi seringkali malah sebaliknya. Semuanya dapat dilakukan dari rumah dan kita jadi malas untuk bergerak dan beraktivitas. Jangan sampai jadi seperti Patrick di meme berikut. Pandemi bukan alasan bagi kita untuk berpangku tangan. Entah dalam kondisi apa pun, kita selalu bisa mengembangkan diri dan jadi produktif. Satu cara efektif yang saya pakai selama beberapa tahun ini adalah membuat jadwal sebelum tidur di malam hari. Membuat jadwal nggak sesimpel kedengarannya. Ada beberapa hal yang nggak boleh asal dan harus diperhatikan biar lebih efektif dan bisa dia...

Cara Mengatasi Overthinking

  Dari kemarin saya dengar beberapa kali orang ngomong soal overthinking. Yang satu pas lagi jalan, yang lain pas lagi di kafe, dan sisanya di sosmed. Rasanya terlalu random kalau semua itu kebetulan. Mungkin Semesta lagi ngirim pesan pada saya buat nulis ini. Tapi mungkin juga saya cuma overthinking soal overthinking. Kata Google, overthinking itu artinya berpikir berlebihan. Walau pun semua yang berlebihan itu katanya nggak baik, tapi saya rasa overthinking itu baik-baik saja. Coba lihat suatu tweet dari Mas @andihiyat berikut ini. Kalau para pemuda itu nggak overthinking, bisa jadi Indonesia nggak jadi merdeka. Bisa jadi nggak ada acara tujuhbelasan (soalnya merdekanya nggak pas tanggal 17, hehe). Tapi kemungkinan terburuknya, bisa jadi kita masih dikuasai penjajah. Maka kita perlu tahu arti penting overthinking agar bisa berubah dan berkembang. Kita nggak boleh mencegah overthinking. Soalnya kalau kita cegah, kita jadi nggak berpikir matang-matang, dan malah bertindak asal-...

Hari Buruk Joker, Stoisisme, dan Cerita Dua Biksu

  “Hanya butuh satu hari buruk untuk mengubah manusia terwaras jadi gila. Sejauh itulah dunia dari tempatku berada. Satu. Hari. Buruk.” – Joker Beberapa bulan yang lalu, film Joker meledak di bioskop. Ketenarannya dianggap mengalahkan film-film Marvel. Film ini tidak terfokus pada adegan pertarungan yang keren, teknologi canggih, atau efek-efek editan yang menakjubkan. Film ini menarik hati penonton karena menyajikan sisi gelap manusia, the Shadow . Aku terpikir film ini setelah melewati satu hari aneh. Hari buruk bukan kata yang tepat, karena hari itu melibatkan sisi malaikat dan iblisku. Dengan meditasi hari itu aku merasa damai, tenang, sekaligus takjub. Aku seakan menjadi makhluk tertinggi. Namun di hari itu pula aku merasakan dorongan hewani. Aku ingin menjadi senang dengan cara-cara terlarang. Aku seakan menjadi makhluk terendah. Kurasa aku setuju dengan Nietzsche, manusia adalah jembatan antara hewan dan adimanusia. Manusia bisa menjadi makhluk termulia maupun makhluk ...

Empat Angka Nol, Shangri-La, dan Kopi yang Hitam Manis

Biasanya aku minum kopi hitam saat aku depresi. Kopi hitam adalah teman bagi kehidupan yang pahit. Saat kauhirup dia, aromanya bagai merasuk, menyelinap ke dalam kepala, menenangkan ketegangan yang ada. Saat kauteguk dia, airnya mengalir lembut, menghangatkan seisi tubuh yang lelah, menguatkan seisi raga yang lemah. Lidahmu mungkin kelu karena merasa pahit. Namun si kopi sebenarnya ingin berkata, “Beginilah rasanya hidup. Hadapilah dan nikmatilah.” Kopi adalah teman lamaku. Tiap hari dia menemani tahun-tahun akhir mahasiswaku. Kini aku akan menemuinya lagi, di warung yang sama, di Bandung yang sama. Tetapi tenang, aku tidak depresi. Aku justru sedang ingin menikmati malam. Beberapa malam yang lalu, aku sempat terbangun, tengkurap di atas kasur dengan buku dan pensil yang tergeletak. Seperti orang pada umumnya, sontak aku memeriksa ponsel. 00:00 Empat angka nol muncul di layar. Jika aku masih diriku tahun lalu, aku pasti mengabaikannya. Tak ada yang spesial dari angka yang keb...

Mengapa Aku Ada di Sini?

Seharusnya judul di atas adalah pertanyaan di benak semua orang. Karena kita sadar akan eksistensi diri sendiri, wajar jika kita mempertanyakannya. Berbeda dengan benda mati seperti batu yang tidak sadar pada dirinya sendiri. Kesadaran akan eksistensi diri inilah yang membedakan manusia dari hal lain. Namun benarkah manusia lain sadar? Kita hanya sadar akan eksistensi diri sendiri. Karena itu judul di atas adalah “mengapa aku ada di sini?” bukan “mengapa kita ada di sini?”. Kita tak bisa memastikan kesadaran orang lain. Satu-satunya hal yang mutlak adalah eksistensi diri sendiri. Lantas, mengapa aku ada di sini? Ada dua pandangan besar mengenai ini, yaitu materialisme dan idealisme. Materialisme menganggap eksistensi mendahului esensi. Kita ada terlebih dulu. Makna keberadaan kita mungkin tidak ada dan harus dicari sendiri. Sedangkan idealisme menganggap esensi mendahului eksistensi. Setiap hal yang ada di dunia memiliki maknanya sendiri, termasuk keberadaan kita. Namun bagaimana pun...

Makna Perempuan dari Sudut Pandang Mitologi

Setelah kupikir-pikir, banyak mitologi di dunia bersifat patriarki. Beberapa kisah menunjukkan pandangan orang-orang tersebut tentang perempuan. Kucoba menyelidiki secara kecil-kecilan tentang ini dengan melihat dari beberapa kisah mitologi. Yang pertama, aku mengambil kisah Adam dan Hawa. Kisah ini ada di semua agama Abrahamik. Diceritakan Tuhan (yang digambarkan sebagai laki-laki) menciptakan Adam sebagai manusia pria pertama. Lalu Ia menciptakan Hawa sebagai pasangan Adam dari tulang rusuknya. Memang “diambil dari tulang rusuk” memberikan kesan setara antara laki-laki dan perempuan, tetapi penggunaan kata ganti laki-laki untuk Tuhan dan penciptaan Adam terlebih dulu sudah menggambarkan budaya patriarki. Setelah itu, mereka diperbolehkan memakan apa saja yang ada di surga itu kecuali buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (buah khuldi dalam Islam). Iblis memperdaya Hawa sehingga ia memakan buah itu dan memberikannya pula pada suaminya. Setelah mereka memakan buah it...

Law of Attraction: Cara Mengubah Impian jadi Kenyataan

Pernahkah kamu merasa apa yang kamu bayangkan jadi nyata? Pernahkah kamu merasa apa yang kamu katakan benar-benar terjadi di kemudian hari?  Aku sering merasakan itu, hingga kupikir aku bisa meramal masa depan.  Baru beberapa bulan lalu aku mengerti, kalau aku menggunakan "law of attraction" secara tak sadar. Law of attraction atau hukum ketertarikan, berkata bahwa kita selalu menarik apa yang kita pikirkan. Kalau kita fokus pada kesedihan dan hal-hal negatif, hal itu pulalah yang tertarik pada kita. Kalau kita fokus pada pikiran positif dan percaya tujuan kita akan tercapai, jalan ke sana akan muncul di hadapan kita. Kita mengirimkan energi berupa pikiran dan emosi ke Semesta, lalu memperoleh kembali apa yang telah dikirimkan. Misalnya di suatu kompetisi, aku pernah merasa tidak percaya diri dan tak layak menang. Hasilnya, bisa ditebak, aku tak menang. Sebaliknya saat penerimaan mahasiswa baru, aku melihat anak-anak berprestasi dipamerkan di depan gedung Sabuga ITB dan bersa...

Apa Itu Cinta Sebenarnya?

Seperti remaja pada umumnya, aku sempat berpacaran di masa sekolah. Rasanya indah dan lucu. Pacaran telah memberi drama yang menghibur masa sekolahku. Namun dari yang kulihat dan kurasakan, pacaran anak remaja bukanlah cinta yang sebenarnya. Jika kita cukup jujur pada diri sendiri, kurasa alasan kita dulu berpacaran adalah: penasaran, kesepian, dan gengsi. Sayangnya meski aku sudah 22 tahun, aku masih melihat teman-temanku tidak benar-benar mencintai. Mereka berhubungan seperti para remaja. Seharusnya cinta bukanlah sekadar memenuhi rasa penasaran, mengisi hidup yang sepi, atau menjaga gengsi. Cinta yang sebenarnya jauh lebih dari itu. Aku mengerti cinta yang sebenarnya saat merasa sangat spiritual. Saat itu aku pergi ke gereja tiap pagi dan berdoa rosario tiap malam. Rasanya damai dan tenang. Lalu suatu malam aku mengobrol dengan salah satu temanku. Dan tiba-tiba... rasanya aku mengerti cinta. Rasanya seperti aku mendapat intuisi. Aku merasa seperti anak kecil lagi. Aku tidak takut ap...

Tips Belajar Menjadi Penulis

Sejak kecil aku suka membaca dan membuat cerita. Aku bercita-cita menjadi penulis buku best-seller. Walau pun kuliah di jurusan kimia, aku tak bisa menyangkal kalau aku selalu ingin menjadi penulis. Aku tak bisa membayangkan kerja kantoran 8 jam sehari, melakukan hal yang sama persis terus-menerus sepanjang hidup. Terlalu monoton dan membosankan untuk jiwaku yang bebas. Setelah lulus kuliah dan terpapar oleh kondisi pandemi, aku mengisi waktuku dengan menulis. Aku mencoba serius menjadi penulis. Tadinya aku tak pernah percaya diri pada tulisanku. Aku terlalu perfeksionis. Aku hanya berbagi ceritaku pada teman-teman terdekat. Dulu aku merasa tulisanku belum layak untuk diterbitkan atau disebarkan secara luas. Untuk mengisi waktu luang, aku sempat ikut pelatihan menulis online. Di sana dijabarkan cara-cara menulis yang secara tak sadar sudah kuterapkan. Aku juga sempat bertanya-tanya pada seorang kenalan yang bukunya sudah diterbitkan di Gramedia. Aku ingin belajar serius jadi penulis. A...