“Hanya butuh satu hari
buruk untuk mengubah manusia terwaras jadi gila. Sejauh itulah dunia dari
tempatku berada. Satu. Hari. Buruk.” – Joker
Beberapa bulan yang
lalu, film Joker meledak di bioskop. Ketenarannya dianggap mengalahkan
film-film Marvel. Film ini tidak terfokus pada adegan pertarungan yang keren,
teknologi canggih, atau efek-efek editan yang menakjubkan. Film ini menarik
hati penonton karena menyajikan sisi gelap manusia, the Shadow.
Aku terpikir film ini
setelah melewati satu hari aneh. Hari buruk bukan kata yang tepat, karena hari
itu melibatkan sisi malaikat dan iblisku. Dengan meditasi hari itu aku merasa
damai, tenang, sekaligus takjub. Aku seakan menjadi makhluk tertinggi. Namun di
hari itu pula aku merasakan dorongan hewani. Aku ingin menjadi senang dengan
cara-cara terlarang. Aku seakan menjadi makhluk terendah.
Kurasa aku setuju dengan
Nietzsche, manusia adalah jembatan antara hewan dan adimanusia. Manusia bisa
menjadi makhluk termulia maupun makhluk terhina. Dan menariknya, aku hanya
butuh sehari untuk bisa merasakan keduanya.
Lalu apa yang harus
dilakukan manusia jika satu hari bisa mengubahnya 180 derajat?
Dengan pertanyaan itu,
kau sudah mendapat jawabannya. Dalam sehari, manusia bisa berubah dari yang terwaras
menjadi gila. Kenapa tak kembali menjadi waras di hari berikutnya?
Lalu jawab Joker, “Kalau
begitu, kita butuh satu hari baik untuk mengubah yang gila kembali waras. Bagaimana
jika hari baik itu tak kunjung tiba? Kita tak bisa mengendalikan baik buruknya
suatu hari.”
Ya, benar. Menurut
Stoisisme, kita tak bisa mengendalikan hal eksternal, tapi kita bisa mengubah
sikap kita. Bahkan baik atau buruk adalah perspektif, hal yang bisa kita
kendalikan. Jika suatu hari kita tersandung batu, kita bisa berpikir itu adalah
hari yang buruk. Tetapi kita bisa bersikap bodo amat dan tetap tenang. Kita
bahkan bisa bersyukur. Karena pernah tersandung, kita bisa belajar hati-hati
dalam melangkah.
Tadi pagi aku melihat
sebuah video yang cocok dengan tema tulisan ini. Video itu berisi salah satu
cerita paradoks dalam Zen-Buddhisme, sering pula disebut Zen Koan.
Alkisah, seorang biksu
tua dan seorang biksu muda sedang berjalan. Lalu sampailah mereka di tepi
sungai dengan arus yang deras. Saat mereka hendak menyeberang, seorang wanita
muda yang cantik muncul. Dia meminta tolong untuk diantar ke seberang.
Kedua biksu saling
menatap karena telah bersumpah untuk tidak menyentuh wanita. Namun tanpa
sepatah kata, biksu tua menggendong si wanita menyeberangi sungai.
Biksu muda terdiam tak
percaya. Setelah melalui sungai dan berpisah dengan si wanita, biksu muda tetap
tak bisa berkata-kata. Selama berjam-jam tak ada kata yang keluar di antara
mereka berdua. Akhirnya biksu muda tak sanggup menahan diri dan berseru,
“Sebagai biksu kita tak boleh menyentuh wanita, lalu kenapa tadi kaubawa wanita
itu di pundakmu?”
Biksu tua menatapnya balik
dan menjawab, “Saudaraku, aku menurunkannya di seberang sungai. Kenapa kau
masih membawanya di pikiranmu?”

Komentar
Posting Komentar