Biasanya aku minum kopi hitam saat aku depresi. Kopi hitam adalah teman bagi kehidupan yang pahit. Saat kauhirup dia, aromanya bagai merasuk, menyelinap ke dalam kepala, menenangkan ketegangan yang ada. Saat kauteguk dia, airnya mengalir lembut, menghangatkan seisi tubuh yang lelah, menguatkan seisi raga yang lemah. Lidahmu mungkin kelu karena merasa pahit. Namun si kopi sebenarnya ingin berkata, “Beginilah rasanya hidup. Hadapilah dan nikmatilah.”
Kopi adalah teman
lamaku. Tiap hari dia menemani tahun-tahun akhir mahasiswaku. Kini aku akan
menemuinya lagi, di warung yang sama, di Bandung yang sama. Tetapi tenang, aku
tidak depresi. Aku justru sedang ingin menikmati malam.
Beberapa malam yang lalu, aku sempat terbangun, tengkurap di atas kasur dengan buku dan pensil yang tergeletak. Seperti orang pada umumnya, sontak aku memeriksa ponsel.
00:00
Empat angka nol muncul
di layar.
Jika aku masih diriku
tahun lalu, aku pasti mengabaikannya. Tak ada yang spesial dari angka yang
kebetulan berurutan semacam itu. Tetapi yang kulakukan justru mencari maknanya
di internet. Suatu situs berkata bahwa angka itu melambangkan kepenuhan, wholeness,
kesadaran bahwa Diri dan Semesta adalah satu, kesadaran bahwa Diri punya
potensi tanpa batas. Selain itu, angka nol juga melambangkan satu siklus yang
telah usai, dan saat ini sedang dimulai siklus yang baru.
Belakangan ini aku
memang sedang gandrung dengan psikologi Carl Jung, mitologi Joseph Campbell,
serta law of attraction. Aku bahkan bermeditasi tiap hari. Tak heran
jika aku penasaran dengan hal-hal semacam ini. Tiap pagi biasanya aku bangun
dengan merenungi makna dari mimpi yang kualami. Dalam benak aku berpikir,
mungkinkah itu pertanda dari Semesta?
Siang tadi aku pergi ke
suatu tempat dengan temanku. Di jalan aku melihat sebuah toko dengan nama
“Shangri-La”. Nama itu tak asing bagiku. Rasanya itu suatu hal menarik yang
pernah kubaca entah di mana.
Sorenya aku pergi ke
suatu persewaan buku. Aku berusaha mencari buku yang menarik. Dalam hati
terbersit harapan munculnya pertanda dari semua judul buku yang ada. Namun
kurasa pertanda tak perlu diminta seperti itu. Jika kita meminta pertanda
dengan berlebihan dan obsesif, justru dia tak akan muncul. Kita harus
menyerahkan semua pada Semesta.
Di saat seperti itu, aku
tiba-tiba terkejut. Mataku tertumpu pada sebuah buku. Tertulis jelas di
sampulnya sebuah kata: “Shangri-La”. Aku pun membaca bagian belakangnya.
Tertulis di situ, “you will believe that magic is real”.
Setelah itu kucari makna
“Shangri-La” di internet. Rupanya aku pernah tahu nama ini dari mitologi.
Shangri-La adalah nama suatu utopia, surga tersembunyi di atas bumi, tempat
sempurna yang damai, mirip El Dorado atau Taman Firdaus. Shangri-La terkadang
juga diartikan sebagai analogi untuk suatu pencarian dalam hidup, suatu hal
yang sulit dicari namun begitu ingin diperoleh.
Lalu aku kembali
bertanya, mungkinkah ini pertanda?
Aku adalah orang yang
selalu bertanya, selalu mencari. Dan dalam pencarian spiritualku, aku sadar
bahwa makna-makna yang kucari adalah apa yang telah kurasakan. Aku belajar dan
aku tahu bahwa aku punya potensi tanpa batas. Dan di saat-saat seperti ini aku
bisa percaya sihir atau keajaiban apa pun di depan mataku. Dalam suatu meditasi
aku sempat merasa melambung mengangkasa, seakan aku bukan lagi manusia, aku
adalah jagad. Aku begitu tenang dan damai menjadi jagad, meski suara nafas
menggangguku. Begitu kembali ke normal, aku begitu takjub, menggerakkan
tanganku seakan itu adalah benda asing, melihat ke langit-langit kamar seakan
aku baru punya mata, seakan aku baru punya raga.
Tetapi kesadaran akan
potensi tanpa batas itu membawa satu ketakutan. Aku takut menjadi monster. Aku
takut potensiku tak terkendali.
Setelah semua hal itu, setelah aku merenungi dan percaya pada Semesta, aku begitu ingin keluar melihat bintang, menikmati malam dengan segelas kopi hitam. Kupikir kopi itu bisa jadi manis jika kusesap dalam suasana hati begini.
Begitu kudapati gelas di
hadapanku, kuhirup dan kukecaplah dia. Dan coba tebak..., rasanya manis! Entah
si Aa’ memberi gula terlalu banyak atau aku telah menyulap molekul glukosa, aku
tak tahu. Tetapi yang jelas, empat angka nol, Shangri-La, dan kopi yang hitam
manis ini jadi sebuah pembuka untuk aku terus menulis.
Bandung, Juli 2020


Komentar
Posting Komentar