Salah satu ilmu yang paling
kusenangi adalah bahasa. Bukan hanya bahasa sebagai cara komunikasi, tapi juga
sebagai pembentuk pola pikir. Contoh yang paling terkenal mungkin bahasa
Newspeak di novel 1984 karya George Orwell. Di situ bahasa Inggris dimodifikasi
agar menjadi sederhana dan teratur, serta menghilangkan konsep-konsep seperti
kebebasan atau demokrasi. Bahasa Newspeak dibuat untuk membatasi pola pikir
masyarakat agar sejalan dengan kepentingan negara.
Tak usah jauh-jauh, bahasa-bahasa
di Indonesia pun dapat mencerminkan pola pikir masyarakatnya. Misalnya dalam
bahasa Inggris, kita selalu gunakan kata “I”, “you”, dan “he/she”. Tapi dalam
bahasa Indonesia, kita tak bisa sembarangan menggunakan kata “aku”, “kamu”, dan
“dia”. Untuk orang yang dihormati, kita gunakan kata “saya”, “Anda”, dan
“beliau”. Cara berbahasa ini membuat kita berpikir tentang kedudukan lawan
bicara, apakah dihormati atau tidak. Dengan begitu kita dibentuk menjadi mawas
diri pada kedudukan diri sendiri dan lawan bicara.
Hal seperti ini tampak jelas pada
bahasa Jawa. Bahasa Jawa mengenal 3 tingkatan berbahasa, yaitu ngoko, krama madya, dan krama inggil.
Kosakata dalam 3 tingkatan ini pun seringkali berbeda. Orang Jawa dibentuk
untuk hati-hati dalam bicara, memperhatikan sopan santun pada lawan bicara,
serta mawas diri.
Namun ada hal sangat menarik yang
kutemukan tentang bahasa Jawa beberapa hari yang lalu. Saat itu aku pergi ke
gereja dan menemukan teks misa bahasa Jawa tertinggal di meja. Aku membacanya
dan tertarik pada suatu frasa. Yang kutahu, Tuhan dalam bahasa Jawa adalah
“Gusti” atau “Pangeran”. Sebutan yang bisa dialamatkan pada raja dan bangsawan.
Hal ini lumrah terjadi, seperti pada kata bahasa Inggris “Lord” atau pada
bahasa Latin “Dominus”. Di bahasa Indonesia sendiri, aku yakin “Tuhan” memiliki
akar kata yang sama dengan “Tuan”. Tapi di teks itu Tuhan disebut sebagai
“Dalem”.
Selama 22 tahun sebagai orang
Jawa, aku hanya tahu “dalem” berarti “rumah” atau “aku” dalam bentuk yang
paling halus. Yang spontan terpikir olehku saat itu adalah “Tuhan” bisa berarti
“rumah” atau “aku”. Pola pikir yang terbentuk dari kata ini sangat menarik.
Kita bisa menganggap Tuhan sebagai rumah, tempat kediaman kita. Tuhan bisa
dianggap sebagai tempat kita berasal dan tempat kita pulang.
Kita bisa anggap pula Tuhan
sebagai bentuk paling halus dari “aku”. Bukan dalam artian “aku sama dengan
Tuhan” sehingga harus dipuja dan disembah, tapi dalam artian “Tuhan mewujud
dalam diriku” atau “aku adalah wujud kecil Tuhan”. Filosofi seperti ini biasa
ditemukan di Timur, di mana Tuhan dianggap sebagai sesuatu yang sangat dekat
dan mewujud dalam segala hal.

Komentar
Posting Komentar