Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Filsafat

Dua Wanita di Depan Katedral

  Dua orang wanita tua duduk di atas anak tangga, di depan pintu gerbang. Mereka menghadap keluar, ke halaman katedral, menyambut orang-orang yang datang seperti dua orang penjaga. Orang-orang datang dengan kendaraan pribadi mereka. Ada sebagian sepeda motor, namun tak sedikit mobil yang terparkir. Mobil berbaris seperti dalam pameran, makin lama makin banyak. Mereka yang datang mengenakan baju yang bersih dan indah. Mereka masuk gerbang dengan senyuman, mencelupkan jari mereka pada air suci dan membuat tanda salib. Mereka tidak menghiraukan dua wanita tadi, melirik pun tidak. Mungkin mereka menganggapnya seperti patung penjaga. Atau mungkin karena pakaian mereka jelek dan kotor, ditambah kerudung seadanya yang menutupi sebagian rambut mereka. Dua wanita ini ditemani kotak plastik di depan mereka, berharap orang-orang menaruh sesuatu di dalamnya. Mereka adalah penjaga yang setia. Mereka telah berada di sana bertahun-tahun. Setelah melihat mereka beberapa minggu, aku tak sangg...

Sedikit Pandangan tentang Ramalan

  Kata dosen pembimbingku, yang penting adalah kehendak. Tapi setelah aku menyelidiki dan membaca beberapa artikel, aku menyimpulkan bahwa yang penting juga adalah percaya. Saat kita percaya sesuatu, kehendak itu akan mewujud lebih dekat dan intens. Dosen pembimbingku tidak percaya pada aliran determinisme, yang menganggap semua hal memiliki jalan yang sudah ditentukan. Dia tentu tidak percaya ramalan. Tapi saat kita percaya pada hal-hal itu, justru hal itulah yang akan mewujud. Pada beberapa cerita, justru saat kita percaya ramalanlah ramalan itu menjadi kenyataan. Misalnya pada cerita Kung Fu Panda. Saat Po percaya bahwa dirinyalah ksatria naga, percaya bahwa dirinya spesial (dari gulungan naga yang kosong), Po bisa mengalahkan musuhnya. Di cerita Kung Fu Panda 2, orang tua Chen si merak (kalau tidak salah nama) mengasingkan Chen dari kerajaan karena ramalan yang berkata bahwa dia akan membawa kehancuran. Tapi justru karena Chen diasingkan, dia ingin membawa kehancuran. Ceritan...

Sedikit Pandangan tentang Kepercayaan

  Di suatu malam di tempat ngopi, aku dan teman-temanku mengobrol soal Keraton Agung Sejagat. “Kenapa kamu bilang itu bodoh?” tanyaku. “Karena itu nggak masuk akal. Mereka ngaku penerus Majapahit dan punya kekuasaan sejagat.” “Kalau kepercayaanmu sendiri, itu masuk akal?” “...” Aku melihat Keraton Agung Sejagat dengan sudut pandang yang berbeda. Pemikiran mereka sangat menarik! Aku tak membahas soal kebenaran. Berdasarkan sejarah, penerus Majapahit di zaman sekarang adalah keraton Surakarta dan Yogyakarta. Untuk mereka bisa menguasai dunia pun tampaknya mustahil. Tapi yang aku soroti di sini adalah kepercayaan mereka. Fenomena seperti ini tak jarang muncul dalam sejarah. Orang-orang Romawi kuno, misalnya, percaya bahwa mereka ditakdirkan menguasai dunia. Mereka sempat membangun kekaisaran yang sangat besar di sekitar Mediterania. Orang-orang Jerman saat Perang Dunia II juga percaya bahwa ras mereka adalah ras yang unggul dan dapat menguasai dunia. Orang Yahudi percaya b...

Sedikit Pandangan tentang Agama

Aku dan teman-temanku suka nongkrong di kafe. Kami mengobrolkan apa pun, baik itu gosip teman sendiri, kemahasiswaan, isu hangat, hingga filsafat dan agama. Gaya pergulan kami terasa akrab namun kasar. Satu informasi hangat bisa menyebar dengan cepat seangkatan. Tanpa perlu media massa, kami secara sukarela menyebarnya. Kasarnya adalah saling ejek, namun tanpa dimasukkan ke hati. Kami bahkan terkadang memanggil teman kami dengan SARA, tapi kami biasa saja. Malam kemarin aku berniat mengerjakan skripsi di suatu kafe milik kakak tingkat. Sampai suatu titik aku bosan dan mengobrol dengan teman-temanku. Aku yang tertarik dengan bahasa dan agama, akhirnya belajar iqro’ dengan mereka. Sudah lama aku ingin bisa membaca tulisan Arab. Aku ingin bisa membaca Alquran. Aku ingin mempelajari agama-agama lain dan melihat sudut pandangnya terhadap dunia. Teman-temanku lalu membahas doa-doa tertentu, seperti doa makan, doa sebelum tidur, doa bangun pagi, dan lain-lain. Tapi muncul banyak pertany...

Hari Buruk Joker, Stoisisme, dan Cerita Dua Biksu

  “Hanya butuh satu hari buruk untuk mengubah manusia terwaras jadi gila. Sejauh itulah dunia dari tempatku berada. Satu. Hari. Buruk.” – Joker Beberapa bulan yang lalu, film Joker meledak di bioskop. Ketenarannya dianggap mengalahkan film-film Marvel. Film ini tidak terfokus pada adegan pertarungan yang keren, teknologi canggih, atau efek-efek editan yang menakjubkan. Film ini menarik hati penonton karena menyajikan sisi gelap manusia, the Shadow . Aku terpikir film ini setelah melewati satu hari aneh. Hari buruk bukan kata yang tepat, karena hari itu melibatkan sisi malaikat dan iblisku. Dengan meditasi hari itu aku merasa damai, tenang, sekaligus takjub. Aku seakan menjadi makhluk tertinggi. Namun di hari itu pula aku merasakan dorongan hewani. Aku ingin menjadi senang dengan cara-cara terlarang. Aku seakan menjadi makhluk terendah. Kurasa aku setuju dengan Nietzsche, manusia adalah jembatan antara hewan dan adimanusia. Manusia bisa menjadi makhluk termulia maupun makhluk ...

Mengapa Aku Ada di Sini?

Seharusnya judul di atas adalah pertanyaan di benak semua orang. Karena kita sadar akan eksistensi diri sendiri, wajar jika kita mempertanyakannya. Berbeda dengan benda mati seperti batu yang tidak sadar pada dirinya sendiri. Kesadaran akan eksistensi diri inilah yang membedakan manusia dari hal lain. Namun benarkah manusia lain sadar? Kita hanya sadar akan eksistensi diri sendiri. Karena itu judul di atas adalah “mengapa aku ada di sini?” bukan “mengapa kita ada di sini?”. Kita tak bisa memastikan kesadaran orang lain. Satu-satunya hal yang mutlak adalah eksistensi diri sendiri. Lantas, mengapa aku ada di sini? Ada dua pandangan besar mengenai ini, yaitu materialisme dan idealisme. Materialisme menganggap eksistensi mendahului esensi. Kita ada terlebih dulu. Makna keberadaan kita mungkin tidak ada dan harus dicari sendiri. Sedangkan idealisme menganggap esensi mendahului eksistensi. Setiap hal yang ada di dunia memiliki maknanya sendiri, termasuk keberadaan kita. Namun bagaimana pun...