Seharusnya judul di atas adalah pertanyaan di benak semua orang. Karena kita sadar akan eksistensi diri sendiri, wajar jika kita mempertanyakannya. Berbeda dengan benda mati seperti batu yang tidak sadar pada dirinya sendiri. Kesadaran akan eksistensi diri inilah yang membedakan manusia dari hal lain.
Namun benarkah manusia lain sadar? Kita hanya sadar akan eksistensi diri sendiri. Karena itu judul di atas adalah “mengapa aku ada di sini?” bukan “mengapa kita ada di sini?”. Kita tak bisa memastikan kesadaran orang lain. Satu-satunya hal yang mutlak adalah eksistensi diri sendiri. Lantas, mengapa aku ada di sini?
Ada dua pandangan besar mengenai ini, yaitu materialisme dan idealisme. Materialisme menganggap eksistensi mendahului esensi. Kita ada terlebih dulu. Makna keberadaan kita mungkin tidak ada dan harus dicari sendiri. Sedangkan idealisme menganggap esensi mendahului eksistensi. Setiap hal yang ada di dunia memiliki maknanya sendiri, termasuk keberadaan kita.
Namun bagaimana pun pandangan kita, esensi merupakan kebutuhan
dari hal yang bereksistensi. Kebingungan atau kesedihan karena ketiadaan esensi
dalam hidup justru menunjukkan betapa kita membutuhkannya. Aku pun tak
mengerti mengapa aku ada di sini, namun aku sedang mencarinya.
Sumber: pikiran yang berantakan, serta buku dan
artikel yang sudah dilupakan
Bandung, 15 November 2016

Komentar
Posting Komentar