Seperti remaja pada umumnya, aku sempat berpacaran di masa sekolah. Rasanya indah dan lucu. Pacaran telah memberi drama yang menghibur masa sekolahku. Namun dari yang kulihat dan kurasakan, pacaran anak remaja bukanlah cinta yang sebenarnya. Jika kita cukup jujur pada diri sendiri, kurasa alasan kita dulu berpacaran adalah: penasaran, kesepian, dan gengsi. Sayangnya meski aku sudah 22 tahun, aku masih melihat teman-temanku tidak benar-benar mencintai. Mereka berhubungan seperti para remaja. Seharusnya cinta bukanlah sekadar memenuhi rasa penasaran, mengisi hidup yang sepi, atau menjaga gengsi. Cinta yang sebenarnya jauh lebih dari itu. Aku mengerti cinta yang sebenarnya saat merasa sangat spiritual. Saat itu aku pergi ke gereja tiap pagi dan berdoa rosario tiap malam. Rasanya damai dan tenang. Lalu suatu malam aku mengobrol dengan salah satu temanku. Dan tiba-tiba... rasanya aku mengerti cinta. Rasanya seperti aku mendapat intuisi. Aku merasa seperti anak kecil lagi. Aku tidak takut ap...