Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Cara Membuat Bahasa Sendiri

Bahasa buatan atau sering disebut  conlang  ( constructed language ) adalah bahasa yang sengaja dibentuk seseorang atau sekelompok orang untuk tujuan tertentu.  Conlang  biasanya dibuat sebagai penunjang dunia fiksi, seperti bahasa Elf dalam The Lord of The Ring atau bahasa Klingon dalam Star Wars. Namun ada juga  conlang  yang dibuat sebagai bahasa internasional alternatif, misalnya Esperanto. Entah apa pun tujuannya, membuat bahasa bisa sangat menarik dan memperluas wawasan linguistik. Berikut disajikan beberapa langkah membuat bahasa. 1. Suara / fonologi Tentukan jenis suara yang mau kamu masukkan dalam bahasamu. Kamu bisa memakai suara seperti pada bahasa Indonesia atau bahasa lain yang kamu pelajari. Huruf vokal umumnya ada 5, yaitu a, e, i, o, dan u. Tapi kamu bisa membuat variasi, misalnya ada 3 huruf vokal a, i, dan u seperti dalam bahasa Arab. Bisa juga kamu buat vokal-vokal a, ae, e, eo, eu, i, o, u seperti dalam bahasa Korea. Konsonan pun tak han...

Cara Mengatasi Minder dalam Menulis

Banyak orang suka menulis, namun tak semuanya mau menerbitkan tulisannya. Mereka yang baru terjun dalam dunia kepenulisan biasanya minder atau kurang percaya diri. Ada banyak alasan seseorang bisa minder, antara lain: merasa belum ahli dan masih pemula, membandingkan tulisan sendiri dengan penulis lain, serta takut dikritik dan dianggap jelek. Namun hal penting yang perlu kita sadari adalah "tak ada penulis yang sempurna". Tak ada penulis yang tulisannya langsung bagus dalam sekali coba. Setiap penulis pernah menulis sampah. Semuanya butuh proses hingga tulisan kita bisa jadi tulisan yang bagus. Kalau tidak percaya, coba periksa tulisan-tulisan awal dari blog orang terkenal. Tulisan itu pasti tidak sebagus tulisan mereka sekarang. Agar bisa melewati semua proses menjadi penulis yang baik, kita perlu percaya diri. Jika kita minder, bisa-bisa kita menyerah dan tak mau lanjut menulis lagi. Ada beberapa cara untuk mengatasi minder dalam menulis, antara lain: 1. Rutin berlatih Min...

Dua Wanita di Depan Katedral

  Dua orang wanita tua duduk di atas anak tangga, di depan pintu gerbang. Mereka menghadap keluar, ke halaman katedral, menyambut orang-orang yang datang seperti dua orang penjaga. Orang-orang datang dengan kendaraan pribadi mereka. Ada sebagian sepeda motor, namun tak sedikit mobil yang terparkir. Mobil berbaris seperti dalam pameran, makin lama makin banyak. Mereka yang datang mengenakan baju yang bersih dan indah. Mereka masuk gerbang dengan senyuman, mencelupkan jari mereka pada air suci dan membuat tanda salib. Mereka tidak menghiraukan dua wanita tadi, melirik pun tidak. Mungkin mereka menganggapnya seperti patung penjaga. Atau mungkin karena pakaian mereka jelek dan kotor, ditambah kerudung seadanya yang menutupi sebagian rambut mereka. Dua wanita ini ditemani kotak plastik di depan mereka, berharap orang-orang menaruh sesuatu di dalamnya. Mereka adalah penjaga yang setia. Mereka telah berada di sana bertahun-tahun. Setelah melihat mereka beberapa minggu, aku tak sangg...

Sedikit Pandangan tentang Ramalan

  Kata dosen pembimbingku, yang penting adalah kehendak. Tapi setelah aku menyelidiki dan membaca beberapa artikel, aku menyimpulkan bahwa yang penting juga adalah percaya. Saat kita percaya sesuatu, kehendak itu akan mewujud lebih dekat dan intens. Dosen pembimbingku tidak percaya pada aliran determinisme, yang menganggap semua hal memiliki jalan yang sudah ditentukan. Dia tentu tidak percaya ramalan. Tapi saat kita percaya pada hal-hal itu, justru hal itulah yang akan mewujud. Pada beberapa cerita, justru saat kita percaya ramalanlah ramalan itu menjadi kenyataan. Misalnya pada cerita Kung Fu Panda. Saat Po percaya bahwa dirinyalah ksatria naga, percaya bahwa dirinya spesial (dari gulungan naga yang kosong), Po bisa mengalahkan musuhnya. Di cerita Kung Fu Panda 2, orang tua Chen si merak (kalau tidak salah nama) mengasingkan Chen dari kerajaan karena ramalan yang berkata bahwa dia akan membawa kehancuran. Tapi justru karena Chen diasingkan, dia ingin membawa kehancuran. Ceritan...

Sedikit Pandangan tentang Kepercayaan

  Di suatu malam di tempat ngopi, aku dan teman-temanku mengobrol soal Keraton Agung Sejagat. “Kenapa kamu bilang itu bodoh?” tanyaku. “Karena itu nggak masuk akal. Mereka ngaku penerus Majapahit dan punya kekuasaan sejagat.” “Kalau kepercayaanmu sendiri, itu masuk akal?” “...” Aku melihat Keraton Agung Sejagat dengan sudut pandang yang berbeda. Pemikiran mereka sangat menarik! Aku tak membahas soal kebenaran. Berdasarkan sejarah, penerus Majapahit di zaman sekarang adalah keraton Surakarta dan Yogyakarta. Untuk mereka bisa menguasai dunia pun tampaknya mustahil. Tapi yang aku soroti di sini adalah kepercayaan mereka. Fenomena seperti ini tak jarang muncul dalam sejarah. Orang-orang Romawi kuno, misalnya, percaya bahwa mereka ditakdirkan menguasai dunia. Mereka sempat membangun kekaisaran yang sangat besar di sekitar Mediterania. Orang-orang Jerman saat Perang Dunia II juga percaya bahwa ras mereka adalah ras yang unggul dan dapat menguasai dunia. Orang Yahudi percaya b...