Di zaman purba, manusia kurasa belum mencintai. Mereka hidup dengan hukum rimba dan bercinta dengan siapa mereka mau. Bisa jadi mereka bercinta dengan saudaranya, atau paman-bibinya, atau orang dari suku lain yang datang berperang. Hingga suatu hari manusia menciptakan lambang kesuburan dan menyembahnya. Wanita yang ideal digambarkan memiliki payudara dan pinggul yang besar. Lelaki menganggap wanita itu dapat melahirkan anak dengan sehat dan merawatnya dengan baik. Lelaki ideal digambarkan dengan dada yang bidang, tinggi-besar, cerdas, dan kaya. Wanita menganggap lelaki itu dapat melindunginya dan menjamin keselamatan keluarganya. Selebihnya, keindahan berarti simetri. Tiap bagian tubuh memiliki ukuran dan bentuk yang proporsional. Sejak itu manusia mulai menilai pasangannya, membandingkannya dengan yang ideal. Manusia membuat parameter-parameter dalam berpasangan. Saat sebagian atau seluruh parameter terpenuhi, manusia jatuh cinta! Saat itulah hukum rimba mulai patah. Dewa tua Ura...