Biasanya aku minum kopi hitam saat aku depresi. Kopi hitam adalah teman bagi kehidupan yang pahit. Saat kauhirup dia, aromanya bagai merasuk, menyelinap ke dalam kepala, menenangkan ketegangan yang ada. Saat kauteguk dia, airnya mengalir lembut, menghangatkan seisi tubuh yang lelah, menguatkan seisi raga yang lemah. Lidahmu mungkin kelu karena merasa pahit. Namun si kopi sebenarnya ingin berkata, “Beginilah rasanya hidup. Hadapilah dan nikmatilah.” Kopi adalah teman lamaku. Tiap hari dia menemani tahun-tahun akhir mahasiswaku. Kini aku akan menemuinya lagi, di warung yang sama, di Bandung yang sama. Tetapi tenang, aku tidak depresi. Aku justru sedang ingin menikmati malam. Beberapa malam yang lalu, aku sempat terbangun, tengkurap di atas kasur dengan buku dan pensil yang tergeletak. Seperti orang pada umumnya, sontak aku memeriksa ponsel. 00:00 Empat angka nol muncul di layar. Jika aku masih diriku tahun lalu, aku pasti mengabaikannya. Tak ada yang spesial dari angka yang keb...