Aku dan teman-temanku suka
nongkrong di kafe. Kami mengobrolkan apa pun, baik itu gosip teman sendiri, kemahasiswaan,
isu hangat, hingga filsafat dan agama. Gaya pergulan kami terasa akrab namun
kasar. Satu informasi hangat bisa menyebar dengan cepat seangkatan. Tanpa perlu
media massa, kami secara sukarela menyebarnya. Kasarnya adalah saling ejek,
namun tanpa dimasukkan ke hati. Kami bahkan terkadang memanggil teman kami
dengan SARA, tapi kami biasa saja.
Malam kemarin aku berniat
mengerjakan skripsi di suatu kafe milik kakak tingkat. Sampai suatu titik aku
bosan dan mengobrol dengan teman-temanku. Aku yang tertarik dengan bahasa dan
agama, akhirnya belajar iqro’ dengan mereka.
Sudah lama aku ingin bisa membaca
tulisan Arab. Aku ingin bisa membaca Alquran. Aku ingin mempelajari agama-agama
lain dan melihat sudut pandangnya terhadap dunia.
Teman-temanku lalu membahas
doa-doa tertentu, seperti doa makan, doa sebelum tidur, doa bangun pagi, dan
lain-lain. Tapi muncul banyak pertanyaan di kepalaku. Aku tak paham kenapa
agama bisa sekaku itu. Tidak hanya di Islam, tapi juga agama lain. Misalnya
kenapa doa harus diawali tanda salib dalam Katolik? Kenapa tiap memulai misa
kita harus mencelupkan jari kita di air suci, lalu berlutut untuk duduk di
bangku gereja?
Hal seperti itu membuat kita melihat dunia sebagai hitam-putih, benar-salah. Cara yang begini benar dan cara yang begitu salah. Doa yang begini benar dan doa yang begitu salah. Kita jadi mementingkan prosedur, mempertanyakan dosa-pahala, surga-neraka, baik-jahat, tapi lupa pada hal-hal yang esensial, seperti makna di balik ajaran itu.
Bandung, 16 Januari 2020

Komentar
Posting Komentar