Di zaman purba, manusia kurasa belum mencintai. Mereka hidup dengan hukum rimba dan bercinta dengan siapa mereka mau. Bisa jadi mereka bercinta dengan saudaranya, atau paman-bibinya, atau orang dari suku lain yang datang berperang. Hingga suatu hari manusia menciptakan lambang kesuburan dan menyembahnya.
Wanita yang ideal digambarkan memiliki payudara
dan pinggul yang besar. Lelaki menganggap wanita itu dapat melahirkan anak
dengan sehat dan merawatnya dengan baik. Lelaki ideal digambarkan dengan dada
yang bidang, tinggi-besar, cerdas, dan kaya. Wanita menganggap lelaki itu dapat
melindunginya dan menjamin keselamatan keluarganya. Selebihnya, keindahan
berarti simetri. Tiap bagian tubuh memiliki ukuran dan bentuk yang
proporsional.
Sejak itu manusia mulai menilai pasangannya,
membandingkannya dengan yang ideal. Manusia membuat parameter-parameter dalam
berpasangan. Saat sebagian atau seluruh parameter terpenuhi, manusia jatuh
cinta! Saat itulah hukum rimba mulai patah. Dewa tua Uranus digantikan oleh
para Titan. Alat kelamin Uranus yang jatuh di laut pun berbusa dan melahirkan
sang dewi cinta, Aphrodite.
Di zaman Titan ini, manusia
mulai membentuk peradaban yang teratur. Cronus sang Titan mengajari manusia
bercocok tanam. Akhirnya lelaki sadar kalau benihnya membuat wanita hamil, sama
seperti hujan menumbuhkan tanaman. Sejak itulah dengan kekuatan fisiknya,
lelaki menggulingkan suku primitif yang matriarki. Lelaki jadi merasa memiliki
wanita. Rasa kepemilikan ini menimbulkan perselisihan: amarah dan cemburu.
Pandora telah membuka kotaknya dan Hawa memberikan buah terlarang itu pada
Adam. Dalam berbagai budaya, wanita telah dipandang sebagai gender kedua dan
sumber perselisihan. Rasa kepemilikan itu, sang iblis ular, hanya tertawa.
Sejak itu lahirlah sistem yang mengatur manusia
bercinta, mengatur lelaki dan wanita yang diikat menjadi satu. Dialah sang dewi
pernikahan, Hera.
Namun norma yang timbul makin
lama makin kompleks, mengembangkan Hera menjadi sang naga Nietzsche. Naga ini
berusia ribuan tahun dengan sisik emas yang bertuliskan “Kamu harus”. Kamu
harus bercinta dengan suami atau istrimu, kamu harus bercinta setelah melalui
ritual pernikahan, kamu harus bercinta dengan orang yang sesuku dan sebudaya.
Itu semua dilakukan demi menjaga keteraturan.
Wanita sebagai hak milik lelaki, terkadang
dipertukarkan dari milik ayah menjadi milik suami. Tak ingin melepasnya
cuma-cuma, timbullah apa yang disebut mahar atau maskawin. Wanita awalnya tak
memiliki kehendak, menerima siapa yang menjadi suaminya. Witing trisna jalaran saka kulina. Tumbuhnya cinta karena terbiasa, kata orang
Jawa.
Namun masa Titan yang teratur ini pun berakhir
di zaman yang kita sebut Siti Nurbaya. Rupanya Eros, si malaikat kecil itu usil
memainkan panahnya. Asam di gunung dan garam di laut disatukan olehnya dalam
belanga; begitu pula dua insan yang berbeda. Parameter pasangan itu dipenuhi
tak terbatas aturan pada sisik sang naga. Dua orang acak dapat mencintai dan
bersatu, menciptakan istilah “jodoh”. Dan dua orang yang dipaksakan bersatu
melahirkan istilah “perjodohan”. Dewa Olympus menang bertarung dengan para
Titan, memulai zaman baru: zaman kehendak. Meski begitu, Hera masih terus
mengawasi Zeus, mengawasi kehendak liarnya menikahi para manusia.
Begitulah Eros terus membayangi manusia. Dia
memanah orang-orang yang terbuai, seperti dua teman yang saling terbiasa. Eros
tak peduli apa yang kita lakukan selanjutnya, atau apa yang kita rasakan
selanjutnya. Kitalah yang harus tahu, kapan melanjutkan dan kapan berhenti.
Namun sama seperti hukum realita lainnya, tak ada yang bertahan selamanya. Bunga
yang mekar akan layu, begitu pula kemarau akan disusul hujan lebat. Cinta,
sebagaimana energi, berpindah-pindah dan fluktuatif. Maka berbahagialah Romeo
dan Juliet. Mereka saling bunuh diri di puncak cinta mereka, sebelum perasaan
itu memudar dan layu.

Komentar
Posting Komentar