Aku belajar banyak tentang mitologi. Tak hanya mitologi Yunani, tapi juga mitologi lain dari seluruh dunia. Namun mitologi Yunani adalah salah satu yang paling menarik. Mitologi ini memiliki monster-monster fantastis. Cerita-ceritanya sering menunjukkan kekuasaan para dewa dan ketidakberdayaan manusia.
Para dewa hidup abadi, berwujud rupawan, berkekuatan supranatural, dan bisa bertindak semau mereka, terkadang melebihi batas moral. Para dewa bisa memberi hadiah atau mengutuk siapa pun yang mereka inginkan. Beberapa dari mereka menikahi saudaranya, tapi berselingkuh dengan banyak makhluk lain. Para dewa di sini adalah wujud hasrat tanpa batas yang ingin dimiliki manusia.
Berbeda dengan dewa Nordik yang takut
akan kehancuran mereka saat perang akhir zaman Ragnarok, dewa Yunani selalu berkuasa.
Bahkan dikatakan di akhir zaman, Zeus dan para dewa meninggalkan manusia yang
tindakannya semakin buruk. Setelah itu Zeus pun menghancurkan manusia.
Manusia di mitologi Yunani
digambarkan tak mampu menghindari takdirnya. Pahlawan sekali pun, meski hebat
dan berjaya, seringkali memiliki takdir yang tragis. Oedipus yang memecahkan
teka-teki Sphinx, tak sengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya, lalu
dikutuk para dewa. Oedipus yang awalnya raja, diusir dari kerajaannya, menjadi
pengemis buta yang berkelana.
Jason yang memimpin para Argonaut
berlayar demi mendapatkan bulu domba emas pada akhirnya mati tertimpa kayu dari
bangkai kapalnya sendiri. Orpheus yang musiknya bisa menenangkan lautan dan
memikat hati Hades, pada akhirnya tak dapat membawa kekasihnya yang mati
kembali ke dunia saat dia menoleh ke belakang. Odysseus sang raja cerdik dari
Ithaca harus mengembara di lautan selama 10 tahun setelah perang Troya hanya
untuk pulang ke kerajaannya.
Manusia sekuat apa pun tak mampu
menghindari takdirnya. Terkadang hal itu yang menjadi canduku, menenangkanku tentang
nasib Tugas Akhirku dan waktu wisudaku. Terkadang pikiran itu membuatku kuat
karena aku tak punya pilihan lain selain maju dan menghadapinya. Namun wisuda
bagiku terasa seperti di cerita Tantalus. Tiap kali Tantalus menunduk untuk
meminum air kolam, air itu akan surut. Dan tiap kali Tantalus ingin menggapai
buah yang ada di ranting pohon di atasnya, ranting itu akan meninggi.
Tugas Akhirku juga terasa seperti
di cerita Sisyphus. Tiap kali aku merasa sudah hampir selesai, seperti Sisyphus
mendorong batu besar ke puncak bukit, batu besar itu menimpaku dan
menggelinding kembali ke bawah. Meski begitu, Sisyphus bisa dilambangkan
sebagai suatu determinasi, semangat yang kuat tak peduli. Seberapa kali pun
batu itu menggelinding jatuh, Sisyphus terus mendorongnya lagi ke puncak.
Bandung, 15 Januari 2020

Komentar
Posting Komentar