Seperti remaja pada umumnya, aku sempat berpacaran di masa sekolah. Rasanya indah dan lucu. Pacaran telah memberi drama yang menghibur masa sekolahku. Namun dari yang kulihat dan kurasakan, pacaran anak remaja bukanlah cinta yang sebenarnya. Jika kita cukup jujur pada diri sendiri, kurasa alasan kita dulu berpacaran adalah: penasaran, kesepian, dan gengsi.
Sayangnya meski aku sudah 22 tahun, aku masih melihat teman-temanku tidak benar-benar mencintai. Mereka berhubungan seperti para remaja. Seharusnya cinta bukanlah sekadar memenuhi rasa penasaran, mengisi hidup yang sepi, atau menjaga gengsi. Cinta yang sebenarnya jauh lebih dari itu.
Aku mengerti cinta yang sebenarnya saat merasa sangat spiritual. Saat itu aku pergi ke gereja tiap pagi dan berdoa rosario tiap malam. Rasanya damai dan tenang. Lalu suatu malam aku mengobrol dengan salah satu temanku. Dan tiba-tiba... rasanya aku mengerti cinta. Rasanya seperti aku mendapat intuisi.
Aku merasa seperti anak kecil lagi. Aku tidak takut apa pun, tidak khawatir apa pun. Aku merasa dinaungi. Aku merasa tenang, damai, dan bahagia. Suatu lonjakan energi positif seperti menyelubungiku. Aku merasa sangat bersyukur dan melihat dunia sebagai tempat yang menakjubkan. Aku tidak mengerti, tapi aku merasa semua keajaiban bisa terjadi. Aku merasa penuh. Aku ingin menyebarkan kebahagiaan pada orang-orang, memberi sesuatu pada mereka, menolong mereka. Itulah kondisi cinta spiritual yang kurasakan.
Lalu setelah aku mencari di internet, kutemukan bahwa cinta remaja itu lebih cocok disebut "attachment". Untuk mempermudah, di bawah ini kusajikan ciri-ciri cinta sebenarnya, yang membedakan dia dari "attachment".
1. Cinta itu memberi, bukan meminta
Saat kita mencintai, kita fokus pada orang lain. Kita berpikir bagaimana membuat dia bahagia. Kita ingin memberi semua yang dia butuhkan. Kita tidak bermain hitung-hitungan, tidak peduli siapa yang memberi lebih banyak.
"Attachment" fokus pada diri sendiri. Kita justru berpikir bagaimana orang lain membuat kita bahagia. Kita meminta orang lain mengisi kekosongan kita. Kita menuntut orang lain memberi kita perhatian atau hal lain yang kita butuhkan.
2. Cinta itu membebaskan, bukan mengekang
Saat kita mencintai, kita menerima orang lain apa adanya. Kita membebaskan dirinya menjadi apa pun yang dia mau. Kita percaya padanya. Namun "attachment" ingin mengendalikan orang lain. Kita justru ingin mengekang orang itu, melarangnya melakukan banyak hal, dan curiga pada hal-hal yang dia lakukan.
3. Cinta itu menolong, bukan membebani
Saat kita mencintai, kita menolong orang lain, meringankan beban-beban hidupnya, saling membantu mengembangkan diri. Namun "attachment" justru membebani orang lain dengan masalah-masalah kita. Kita menghalangi mereka berkembang karena kita ingin segala perhatian dan bantuannya. Kita jadi bergantung pada orang lain, tanpa peduli seberapa itu membebani mereka.
4. Cinta itu selamanya, bukan sementara
Cinta yang sebenarnya tak lekang oleh waktu. Meski telah putus, orang yang kita cintai akan tetap berada dalam hati dan kita mengharapkan yang terbaik baginya. Sebaliknya, perasaan "attachment" akan segera usai, digantikan oleh dendam dan kebencian.
Bagaimana menurutmu?

Komentar
Posting Komentar