Langsung ke konten utama

Sedikit Pandangan tentang Kepercayaan

 


Di suatu malam di tempat ngopi, aku dan teman-temanku mengobrol soal Keraton Agung Sejagat.

“Kenapa kamu bilang itu bodoh?” tanyaku.

“Karena itu nggak masuk akal. Mereka ngaku penerus Majapahit dan punya kekuasaan sejagat.”

“Kalau kepercayaanmu sendiri, itu masuk akal?”

“...”

Aku melihat Keraton Agung Sejagat dengan sudut pandang yang berbeda. Pemikiran mereka sangat menarik! Aku tak membahas soal kebenaran. Berdasarkan sejarah, penerus Majapahit di zaman sekarang adalah keraton Surakarta dan Yogyakarta. Untuk mereka bisa menguasai dunia pun tampaknya mustahil. Tapi yang aku soroti di sini adalah kepercayaan mereka.

Fenomena seperti ini tak jarang muncul dalam sejarah. Orang-orang Romawi kuno, misalnya, percaya bahwa mereka ditakdirkan menguasai dunia. Mereka sempat membangun kekaisaran yang sangat besar di sekitar Mediterania. Orang-orang Jerman saat Perang Dunia II juga percaya bahwa ras mereka adalah ras yang unggul dan dapat menguasai dunia. Orang Yahudi percaya bahwa Tuhan telah memberi mereka tanah terjanji di Israel, menyebabkan perang abadi dengan Palestina. Raja-raja Jawa zaman dahulu percaya bahwa mereka ditakdirkan menguasai seluruh tanah Jawa.

Kepercayaan ini membuat kita bergerak, entah benar atau salah, mencapai tujuan kita. Bagiku kepercayaan adalah kekuatan terbesar yang bisa mendorong manusia bergerak.

Agama pun sama. Agama membuat masyarakat menjadi terkendali. Kepercayaan tertentu membuat suatu masyarakat menjajah dan berperang. Lalu bagi masyarakat yang terjajah dan teraniaya, biasanya muncul kepercayaan tentang ratu adil atau mesias yang akan menyelamatkan dan mengembalikan kejayaan mereka.

Hal ini tampak jelas pada orang Yahudi yang menanti kedatangan mesias untuk membangun kembali Bait Allah mereka. Begitu pula orang Jawa di masa penjajahan yang menantikan satria piningit, ratu adil yang mengembalikan kejayaan mereka. Kepercayaan seperti ini membuat kita terus berjalan, terus berharap, sampai hal itu menjadi kenyataan entah kapan.

Tak ada agama atau kepercayaan yang sepenuhnya masuk akal. Selama mereka tidak berbuat kejahatan atau merugikan orang lain, kurasa sah-sah saja mereka percaya sesuatu. Tak hanya agama-agama resmi Indonesia yang harus kita hormati, tapi juga kepercayaan lain. Flying spaghetti monster, misalnya.

Temanku kemudian bercerita tentang isu lain. Katanya pernah ada yang menjual tiket masuk surga seharga 10 ribu rupiah!

“Anjir, murah banget! Aku mau beli lah!” sahutku.


Bandung, 17 Januari 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Bahasa Sendiri

Bahasa buatan atau sering disebut  conlang  ( constructed language ) adalah bahasa yang sengaja dibentuk seseorang atau sekelompok orang untuk tujuan tertentu.  Conlang  biasanya dibuat sebagai penunjang dunia fiksi, seperti bahasa Elf dalam The Lord of The Ring atau bahasa Klingon dalam Star Wars. Namun ada juga  conlang  yang dibuat sebagai bahasa internasional alternatif, misalnya Esperanto. Entah apa pun tujuannya, membuat bahasa bisa sangat menarik dan memperluas wawasan linguistik. Berikut disajikan beberapa langkah membuat bahasa. 1. Suara / fonologi Tentukan jenis suara yang mau kamu masukkan dalam bahasamu. Kamu bisa memakai suara seperti pada bahasa Indonesia atau bahasa lain yang kamu pelajari. Huruf vokal umumnya ada 5, yaitu a, e, i, o, dan u. Tapi kamu bisa membuat variasi, misalnya ada 3 huruf vokal a, i, dan u seperti dalam bahasa Arab. Bisa juga kamu buat vokal-vokal a, ae, e, eo, eu, i, o, u seperti dalam bahasa Korea. Konsonan pun tak han...

Cara Mengatasi Minder dalam Menulis

Banyak orang suka menulis, namun tak semuanya mau menerbitkan tulisannya. Mereka yang baru terjun dalam dunia kepenulisan biasanya minder atau kurang percaya diri. Ada banyak alasan seseorang bisa minder, antara lain: merasa belum ahli dan masih pemula, membandingkan tulisan sendiri dengan penulis lain, serta takut dikritik dan dianggap jelek. Namun hal penting yang perlu kita sadari adalah "tak ada penulis yang sempurna". Tak ada penulis yang tulisannya langsung bagus dalam sekali coba. Setiap penulis pernah menulis sampah. Semuanya butuh proses hingga tulisan kita bisa jadi tulisan yang bagus. Kalau tidak percaya, coba periksa tulisan-tulisan awal dari blog orang terkenal. Tulisan itu pasti tidak sebagus tulisan mereka sekarang. Agar bisa melewati semua proses menjadi penulis yang baik, kita perlu percaya diri. Jika kita minder, bisa-bisa kita menyerah dan tak mau lanjut menulis lagi. Ada beberapa cara untuk mengatasi minder dalam menulis, antara lain: 1. Rutin berlatih Min...

Dua Wanita di Depan Katedral

  Dua orang wanita tua duduk di atas anak tangga, di depan pintu gerbang. Mereka menghadap keluar, ke halaman katedral, menyambut orang-orang yang datang seperti dua orang penjaga. Orang-orang datang dengan kendaraan pribadi mereka. Ada sebagian sepeda motor, namun tak sedikit mobil yang terparkir. Mobil berbaris seperti dalam pameran, makin lama makin banyak. Mereka yang datang mengenakan baju yang bersih dan indah. Mereka masuk gerbang dengan senyuman, mencelupkan jari mereka pada air suci dan membuat tanda salib. Mereka tidak menghiraukan dua wanita tadi, melirik pun tidak. Mungkin mereka menganggapnya seperti patung penjaga. Atau mungkin karena pakaian mereka jelek dan kotor, ditambah kerudung seadanya yang menutupi sebagian rambut mereka. Dua wanita ini ditemani kotak plastik di depan mereka, berharap orang-orang menaruh sesuatu di dalamnya. Mereka adalah penjaga yang setia. Mereka telah berada di sana bertahun-tahun. Setelah melihat mereka beberapa minggu, aku tak sangg...