Kata
dosen pembimbingku, yang penting adalah kehendak. Tapi setelah aku menyelidiki
dan membaca beberapa artikel, aku menyimpulkan bahwa yang penting juga adalah
percaya. Saat kita percaya sesuatu, kehendak itu akan mewujud lebih dekat dan
intens. Dosen pembimbingku tidak percaya pada aliran determinisme, yang
menganggap semua hal memiliki jalan yang sudah ditentukan. Dia tentu tidak
percaya ramalan. Tapi saat kita percaya pada hal-hal itu, justru hal itulah
yang akan mewujud.
Pada
beberapa cerita, justru saat kita percaya ramalanlah ramalan itu menjadi
kenyataan. Misalnya pada cerita Kung Fu Panda. Saat Po percaya bahwa dirinyalah
ksatria naga, percaya bahwa dirinya spesial (dari gulungan naga yang kosong),
Po bisa mengalahkan musuhnya. Di cerita Kung Fu Panda 2, orang tua Chen si
merak (kalau tidak salah nama) mengasingkan Chen dari kerajaan karena ramalan
yang berkata bahwa dia akan membawa kehancuran. Tapi justru karena Chen
diasingkan, dia ingin membawa kehancuran. Ceritanya tentu berbeda jika orang
tua Chen tidak percaya ramalan dan membesarkan Chen dengan baik. Bisa jadi
ramalan itu tak akan menjadi nyata.
Cerita
mitologi sering menggambarkan ini sebagai ungkapan bahwa kita tidak bisa lari
dari takdir. Salah satunya ada pada cerita Oedipus. Dia diramalkan akan
membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Orang tuanya pun membuang dia. Oedipus
memiliki orang tua asuh dan mengira mereka orang tua kandungnya. Akhirnya
ramalan itu menjadi kenyataan, meski Oedipus tidak bermaksud sengaja melakukan
hal buruk itu.
Tapi
aku setuju saja bahwa kita punya pilihan. Percaya pada hal yang deterministik
bukan berarti tidak percaya pada pilihan. Mitologi Yunani meski banyak
bercerita tentang ramalan orakel, juga bercerita tentang pilihan. Misalnya
Achilles bisa memilih apakah dia ingin hidup panjang tapi biasa saja, atau
hidup pendek tapi berjaya dalam perang Troya. Odysseus juga dikatakan bahwa
jika dia ikut perang Troya, dia baru akan pulang 20 tahun kemudian. Kita tetap
punya pilihan dalam hidup, mengikuti hasrat kita atau tidak, percaya pada
hasrat itu atau tidak.

Komentar
Posting Komentar