Langsung ke konten utama

Dua Wanita di Depan Katedral

 

Dua orang wanita tua duduk di atas anak tangga, di depan pintu gerbang. Mereka menghadap keluar, ke halaman katedral, menyambut orang-orang yang datang seperti dua orang penjaga. Orang-orang datang dengan kendaraan pribadi mereka. Ada sebagian sepeda motor, namun tak sedikit mobil yang terparkir. Mobil berbaris seperti dalam pameran, makin lama makin banyak.

Mereka yang datang mengenakan baju yang bersih dan indah. Mereka masuk gerbang dengan senyuman, mencelupkan jari mereka pada air suci dan membuat tanda salib. Mereka tidak menghiraukan dua wanita tadi, melirik pun tidak. Mungkin mereka menganggapnya seperti patung penjaga. Atau mungkin karena pakaian mereka jelek dan kotor, ditambah kerudung seadanya yang menutupi sebagian rambut mereka.

Dua wanita ini ditemani kotak plastik di depan mereka, berharap orang-orang menaruh sesuatu di dalamnya. Mereka adalah penjaga yang setia. Mereka telah berada di sana bertahun-tahun.

Setelah melihat mereka beberapa minggu, aku tak sanggup menyangkal perasaanku. Aku merasa iba dan ingin menolong mereka. Bukan hanya memberi mereka uang atau makanan, aku ingin tahu asal dan tempat tinggal mereka. Aku ingin mengajak mereka bicara dan memperbaiki kehidupan mereka.

Selama misa, aku mengutuk gereja. Apa yang pastor khotbahkan tidak relevan dengan apa yang ada di depan pintu gerbang! Yesus pernah berkata: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Yesus mengumpamakan orang-orang yang menderita dan terhina sebagai saudara-Nya. Tetapi apa yang telah diperbuat oleh gereja pada mereka yang tak sampai satu meter dari luar gedungnya? Setelah bertahun-tahun? Yang kupikirkan adalah omong kosong.

Saat para petugas membagikan kotak persembahan, aku berprasangka buruk. Aku berpikir gereja tak berbeda dari dua wanita tadi. Gereja juga meminta uang persembahan. Gereja adalah bisnis yang menjual khotbah surga dan neraka. Mereka mementingkan pembangunan gedung, penambahan fasilitas, dan apa pun yang membuat umatnya lebih nyaman untuk datang. Aku tidak melihat Yesus di dalam gedung ini. Aku melihat Yesus di luar pintu gerbang, di dalam dua wanita tadi.

Semoga saja prasangkaku salah.

Mungkin pola pikir orang-orang sama seperti pola pikirku saat pertama melihat mereka. Bingung akan apa yang harus dilakukan. Beberapa berita menunjukkan pengemis yang menipu dan sebenarnya memiliki banyak uang. Orang-orang menjadi skeptis pada pengemis, menganggap mereka tak benar-benar miskin dan bisa jadi menipu. Orang-orang juga merasa, memberi uang membuat mereka kecanduan menjadi pengemis. Tapi apa solusi yang bisa kita tawarkan? Kita tak bisa diam terus menerus.

Di minggu selanjutnya aku berniat mengobrol dengan mereka. Aku duduk di sebelah mereka saat misa, di atas anak tangga. Aku merasa canggung saat orang-orang melirik padaku. Tapi aku cuek saja karena mereka pura-pura tidak melihat. Hati mereka telah mengeras.

Aku bertanya beberapa hal pada wanita tua itu. “Ibu sudah makan?” “Ibu tinggalnya di mana?” Namun dia hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk. Aku pun menawarkan membelikan makanan. Kubelikan dua buah bakpao yang dijual di luar halaman katedral.

Lalu aku sempat bertanya pada tukang parkir katedral. Sejak kapan mereka ada di sana? Apa yang gereja sudah lakukan pada mereka? Tapi dia hanya menjawab: “Ya, memang sudah lama seperti itu.”

Mungkin aku terlalu “kiri” dan percaya bahwa agama adalah candu. Aku terlalu menganggap borjuis itu jahat dan proletar itu menderita, serta kaum marginal itu terpinggirkan. Tapi aku tidak melihat dengan cakupan yang lebih luas.

Kita boleh berpikir, berapa uang yang diperoleh pengemis itu. Melihat bahwa dalam satu hari Minggu ada 4 kali misa dari pagi hingga siang dan dalam satu hari ada ratusan orang mengikuti misa, bisa kita anggap bahwa pengemis itu mendapat banyak uang. Dengan uang yang mereka peroleh, tentu saja mereka bisa mencari kerja yang lebih layak. Mereka bisa memiliki modal untuk berdagang, misalnya. Atau mereka bisa menjadi pekerja di suatu tempat.

Tapi yang sebenarnya aku tekankan adalah bagaimana kita seharusnya memperlakukan sesama manusia. Menurutku manusia sebagai makhluk sosial seharusnya peduli dengan sesamanya. Mereka bertanya, mengobrol, saling menolong. Aku ingin sekali tahu, dari mana dua wanita itu, bagaimana pola pikirnya, kenapa mereka berbuat demikian. Kalau pun mereka memang memanfaatkan umat di katedral, kurasa mereka harus dididik dan ditolong. Aku terpikir untuk mengikuti mereka saat mereka pulang. Tapi aku tak tahu apa aku senekat itu.


Bandung, 14 Januari 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Bahasa Sendiri

Bahasa buatan atau sering disebut  conlang  ( constructed language ) adalah bahasa yang sengaja dibentuk seseorang atau sekelompok orang untuk tujuan tertentu.  Conlang  biasanya dibuat sebagai penunjang dunia fiksi, seperti bahasa Elf dalam The Lord of The Ring atau bahasa Klingon dalam Star Wars. Namun ada juga  conlang  yang dibuat sebagai bahasa internasional alternatif, misalnya Esperanto. Entah apa pun tujuannya, membuat bahasa bisa sangat menarik dan memperluas wawasan linguistik. Berikut disajikan beberapa langkah membuat bahasa. 1. Suara / fonologi Tentukan jenis suara yang mau kamu masukkan dalam bahasamu. Kamu bisa memakai suara seperti pada bahasa Indonesia atau bahasa lain yang kamu pelajari. Huruf vokal umumnya ada 5, yaitu a, e, i, o, dan u. Tapi kamu bisa membuat variasi, misalnya ada 3 huruf vokal a, i, dan u seperti dalam bahasa Arab. Bisa juga kamu buat vokal-vokal a, ae, e, eo, eu, i, o, u seperti dalam bahasa Korea. Konsonan pun tak han...

Cara Mengatasi Minder dalam Menulis

Banyak orang suka menulis, namun tak semuanya mau menerbitkan tulisannya. Mereka yang baru terjun dalam dunia kepenulisan biasanya minder atau kurang percaya diri. Ada banyak alasan seseorang bisa minder, antara lain: merasa belum ahli dan masih pemula, membandingkan tulisan sendiri dengan penulis lain, serta takut dikritik dan dianggap jelek. Namun hal penting yang perlu kita sadari adalah "tak ada penulis yang sempurna". Tak ada penulis yang tulisannya langsung bagus dalam sekali coba. Setiap penulis pernah menulis sampah. Semuanya butuh proses hingga tulisan kita bisa jadi tulisan yang bagus. Kalau tidak percaya, coba periksa tulisan-tulisan awal dari blog orang terkenal. Tulisan itu pasti tidak sebagus tulisan mereka sekarang. Agar bisa melewati semua proses menjadi penulis yang baik, kita perlu percaya diri. Jika kita minder, bisa-bisa kita menyerah dan tak mau lanjut menulis lagi. Ada beberapa cara untuk mengatasi minder dalam menulis, antara lain: 1. Rutin berlatih Min...