Banyak orang suka menulis, namun tak semuanya mau menerbitkan tulisannya. Mereka yang baru terjun dalam dunia kepenulisan biasanya minder atau kurang percaya diri. Ada banyak alasan seseorang bisa minder, antara lain: merasa belum ahli dan masih pemula, membandingkan tulisan sendiri dengan penulis lain, serta takut dikritik dan dianggap jelek.
Namun hal penting yang perlu kita sadari adalah "tak ada penulis yang sempurna". Tak ada penulis yang tulisannya langsung bagus dalam sekali coba. Setiap penulis pernah menulis sampah. Semuanya butuh proses hingga tulisan kita bisa jadi tulisan yang bagus. Kalau tidak percaya, coba periksa tulisan-tulisan awal dari blog orang terkenal. Tulisan itu pasti tidak sebagus tulisan mereka sekarang.
Agar bisa melewati semua proses menjadi penulis yang baik, kita perlu percaya diri. Jika kita minder, bisa-bisa kita menyerah dan tak mau lanjut menulis lagi. Ada beberapa cara untuk mengatasi minder dalam menulis, antara lain:
1. Rutin berlatih
Minder boleh, berhenti menulis jangan. Semakin banyak kita berlatih menulis, semakin kita terbiasa dan lancar. Kita juga semakin sadar kesalahan-kesalahan kita. Tidak perlu perfeksionis, tidak perlu peduli tulisan kita bagus atau jelek dulu, karena memang kita sedang berlatih.
2. Menulis tanpa ekspektasi
Menulislah untuk diri sendiri, tanpa ekspektasi apa pun dari orang-orang. Misalnya saat kita menulis blog, bisa saja seseorang mengkritik. Tapi dari kritikan itu kita bisa belajar memperbaiki tulisan kita.
Selain itu, bisa saja tidak ada yang membaca tulisan kita di blog. Hal itu membuat kita merasa seakan-akan tulisan kita tidak bermanfaat. Tapi selama kita menulis untuk diri sendiri, setidaknya kita bisa mencurahkan semua emosi dan pemikiran kita dalam tulisan. Dan jika seseorang mengapresiasi, kita akan semakin semangat dalam menulis.
3. Banyak membaca
Semakin banyak membaca, semakin banyak ilmu yang kita serap. Dengan membaca, kita memperkaya wawasan, kosa kata, dan gaya menulis yang berbeda-beda. Kita bisa meniru cara menulis seseorang dari buku yang kita baca. Kita bisa juga membaca buku-buku tentang tips-tips dan teori menulis untuk menunjang kemampuan kita.
4. Melakukan riset
Hal-hal yang ingin kita tulis tidak selalu merupakan hal yang kita kuasai. Kita terkadang perlu melakukan riset sederhana, seperti browsing di internet untuk memperdalam konten atau membaca buku untuk menambah pengetahuan.
Selain itu, perlu juga kita melakukan riset soal target pasar. Kita perlu tentukan dulu tulisan kita ditargetkan untuk kalangan siapa. Kita perlu tahu tulisan seperti apa yang mereka sukai di pasaran, genre apa dan gaya bahasa seperti apa. Misalnya, kita ingin menulis untuk kalangan remaja. Di pasaran biasanya remaja menyukai genre romansa dengan gaya bahasa yang tidak resmi.
5. Mengedit sebelum menerbitkan
Sebelum tulisan diterbitkan, pastikan kita edit tata bahasanya, tanda bacanya, dan hubungan antar kalimat. Pengeditan ini berguna untuk memastikan kualitas tulisan kita bagi pembaca. Kita juga bisa memeriksa dan memperbaiki jika ada kesalahan.
6. Menerbitkan ke publik
Yang terakhir, terbitkan saja dulu ke publik. Paling mudah dan simpel, kita bisa menerbitkan tulisan-tulisan kita di blog atau media sosial. Kita bisa mengamati tanggapan orang-orang terhadap tulisan kita. Jika perlu, kita bisa coba menerbitkan di berbagai media massa, seperti koran, majalah, atau situs web tertentu. Ada banyak platform media massa yang mau membayar orang atas tulisannya, seperti basabasi.co, mojok.co, atau Kompas.
Ada juga platform yang bisa menerbitkan cerita-cerita kita, seperti Wattpad atau Storial. Jika ingin menerbitkan buku sendiri, bisa juga melalui situs web seperti nulisbuku.com. Dari situ kita bisa tahu memperluas jaringan pembaca dan menjadi lebih percaya diri menulis.
Pos ini aku tutup dengan suatu kutipan yang selalu kupercaya: "Tak ada karya yang buruk. Setiap karya punya penikmatnya masing-masing."

Komentar
Posting Komentar