Langsung ke konten utama

Cara Membuat Bahasa Sendiri

Bahasa buatan atau sering disebut conlang (constructed language) adalah bahasa yang sengaja dibentuk seseorang atau sekelompok orang untuk tujuan tertentu. Conlang biasanya dibuat sebagai penunjang dunia fiksi, seperti bahasa Elf dalam The Lord of The Ring atau bahasa Klingon dalam Star Wars. Namun ada juga conlang yang dibuat sebagai bahasa internasional alternatif, misalnya Esperanto. Entah apa pun tujuannya, membuat bahasa bisa sangat menarik dan memperluas wawasan linguistik. Berikut disajikan beberapa langkah membuat bahasa.

1. Suara / fonologi

Tentukan jenis suara yang mau kamu masukkan dalam bahasamu. Kamu bisa memakai suara seperti pada bahasa Indonesia atau bahasa lain yang kamu pelajari.

Huruf vokal umumnya ada 5, yaitu a, e, i, o, dan u. Tapi kamu bisa membuat variasi, misalnya ada 3 huruf vokal a, i, dan u seperti dalam bahasa Arab. Bisa juga kamu buat vokal-vokal a, ae, e, eo, eu, i, o, u seperti dalam bahasa Korea.

Konsonan pun tak hanya terbatas pada alfabet Latin. Kamu bisa membuat variasi berdasarkan bahasa lain. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, terdapat konsonan “ng” dan “ny”. Dalam bahasa Arab, terdapat konsonan seperti q dan gh, tapi tidak ada huruf p dan g. Bisa juga dibuat seperti bahasa Jepang, di mana huruf “r” bisa dibaca seperti “l” dan huruf “n” terkadang bisa dibaca seperti “ng” atau “m”.

Pembentukan suku kata dalam suatu bahasa pun memiliki aturan. Dalam bahasa Jepang, misalnya, suku kata seringkali terdiri dari satu konsonan, satu vokal, dan bisa ditambah satu huruf “n”. Contohnya: Do-ra-e-mon, Pi-ka-chu, su-shi. Dalam bahasa Inggris, satu suku kata bisa mengandung deretan konsonan, misalnya sprite, thanks, ab-stract.

2. Kosa kata / leksikon

Buat kosa kata untuk bahasamu sebagus yang ingin kamu mau. Kamu bisa membuat kata-kata itu hanya dari imajinasi, atau mengadaptasinya dari bahasa lain. Misalnya kata “television” dalam bahasa Inggris diadaptasi di bahasa Indonesia menjadi “televisi” dan di bahasa Jepang menjadi “terebi”.

Membuat daftar kosa kata adalah bagian yang membutuhkan waktu paling lama. Daftar kosa kata dasar sebagai referensi bisa kamu lihat di bahasa Toki Pona (120-125 kata), Swadesh list (100-207 kata), bahasa Esperanto (500+ kata), atau Ogden’s Basic English (850 kata).

Beberapa ahli bahasa menemukan pola umum dalam kosa kata. Vokal i dan e umumnya digunakan untuk melambangkan hal yang kecil, lembut, atau bernada tinggi. Sebaliknya, vokal a, u, dan o umumnya menggambarkan hal yang besar, keras, atau bernada rendah.

Tolkien dalam The Lord of The Ring juga menggunakan stereotip suara. Kata-kata dalam bahasa Orc penuh konsonan dan banyak mengandung huruf seperti b, d, dan g yang terdengar kasar. Sedangkan bahasa Elf lebih banyak mengandung vokal dan sering memakai huruf l dan r agar bersuara indah.

3. Tata bahasa / grammar

Tata bahasa adalah bagian yang paling esensial dalam membuat bahasa. Di sini kamu harus menentukan bagaimana tipe bahasamu. Pertama, bagaimana urutan kata dalam bahasamu? Apakah subjek-predikat-objek seperti dalam bahasa Indonesia dan Inggris, atau subjek-objek-predikat seperti dalam bahasa Jepang dan Korea? Bisa juga kamu buat susunannya seaneh yang kamu mau.

Apakah kata sifat di depan atau di belakang kata benda? Misalnya “mobil merah” akan diterjemahkan menjadi “red car” dalam bahasa Inggris. Apakah digunakan preposisi sebelum keterangan (misalnya “di rumah” dan “ke kota”) atau setelah keterangan?

Perlu diperhatikan juga bagaimana kata benda menjadi jamak? Apakah ada pembedaan untuk kata benda laki-laki dan perempuan? Apakah ada intonasi tertentu dalam berbicara? Bagaimana seseorang membuat kalimat tanya dan kalimat seru?

Lalu bagaimana bahasamu mengubah makna kata? Bahasa Mandarin menggabungkan kata demi kata, tanpa imbuhan. Bahasa Arab mengubah huruf vokal dalam kata-katanya. Misalnya, kitab “buku” menjadi katib “penulis”. Bahasa Indonesia menggunakan awalan, sisipan, akhiran, dan apitan. Misalnya “penari” dari “tari”, “jemari” dari “jari”, “harian” dari “harian”, dan “pencarian” dari “cari”. Bahasa Indonesia juga menggunakan reduplikasi. Contohnya “lari-lari” dari kata dasar “lari”.

Ada banyak hal yang bisa dikreasikan dengan tata bahasa. Kamu bisa meniru dari beberapa bahasa yang kamu ketahui. Salah satu situs yang sangat membantu dalam membuat tata bahasa adalah Zompist.

4. Sistem penulisan / huruf

Setelah seluruh bahasa sudah diciptakan, kamu juga bisa membuat sistem penulisannya. Terdapat beberapa macam sistem penulisan, yaitu:

  • Alphabet : tiap suara dilambangkan dengan satu huruf, baik vokal maupun konsonan, seperti huruf Latin.
  • Abjad : hanya konsonan yang dilambangkan dengan huruf, vokal tidak perlu ditulis karena dapat diprediksi dalam bacaannya, seperti huruf Arab dan Ibrani.
  • Abugida : konsonan dilambangkan dengan huruf, sedangkan vokal ditambahkan sebagai pelengkap pada huruf, seperti pada aksara Jawa, aksara Sunda, atau huruf Devanagari di India.
  • Syllabary : setiap suku kata dilambangkan sebagai satu huruf, misalnya pada Hiragana dan Katakana pada bahasa Jepang.
  • Logography : setiap karakter memiliki makna yang berbeda, seperti pada huruf Kanji di Cina.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengatasi Minder dalam Menulis

Banyak orang suka menulis, namun tak semuanya mau menerbitkan tulisannya. Mereka yang baru terjun dalam dunia kepenulisan biasanya minder atau kurang percaya diri. Ada banyak alasan seseorang bisa minder, antara lain: merasa belum ahli dan masih pemula, membandingkan tulisan sendiri dengan penulis lain, serta takut dikritik dan dianggap jelek. Namun hal penting yang perlu kita sadari adalah "tak ada penulis yang sempurna". Tak ada penulis yang tulisannya langsung bagus dalam sekali coba. Setiap penulis pernah menulis sampah. Semuanya butuh proses hingga tulisan kita bisa jadi tulisan yang bagus. Kalau tidak percaya, coba periksa tulisan-tulisan awal dari blog orang terkenal. Tulisan itu pasti tidak sebagus tulisan mereka sekarang. Agar bisa melewati semua proses menjadi penulis yang baik, kita perlu percaya diri. Jika kita minder, bisa-bisa kita menyerah dan tak mau lanjut menulis lagi. Ada beberapa cara untuk mengatasi minder dalam menulis, antara lain: 1. Rutin berlatih Min...

Dua Wanita di Depan Katedral

  Dua orang wanita tua duduk di atas anak tangga, di depan pintu gerbang. Mereka menghadap keluar, ke halaman katedral, menyambut orang-orang yang datang seperti dua orang penjaga. Orang-orang datang dengan kendaraan pribadi mereka. Ada sebagian sepeda motor, namun tak sedikit mobil yang terparkir. Mobil berbaris seperti dalam pameran, makin lama makin banyak. Mereka yang datang mengenakan baju yang bersih dan indah. Mereka masuk gerbang dengan senyuman, mencelupkan jari mereka pada air suci dan membuat tanda salib. Mereka tidak menghiraukan dua wanita tadi, melirik pun tidak. Mungkin mereka menganggapnya seperti patung penjaga. Atau mungkin karena pakaian mereka jelek dan kotor, ditambah kerudung seadanya yang menutupi sebagian rambut mereka. Dua wanita ini ditemani kotak plastik di depan mereka, berharap orang-orang menaruh sesuatu di dalamnya. Mereka adalah penjaga yang setia. Mereka telah berada di sana bertahun-tahun. Setelah melihat mereka beberapa minggu, aku tak sangg...